Saturday, August 27, 2005

MATRIX


The end is the beginning is the end.
Or else, the beginning is the end is the beginning.

If you would just look back, one of those odd phrases is a song title from Smashing Pumpkins. I’m not a fan of theirs, nor will i likely be anytime in the future. But still, the phrase (one of those two, that is) hangs on the back of my head every time i have an encounter with parting.

(Now, isn’t that peculiar: to encounter parting! ;p)

To be honest, i hate partings. Hate, hate, hate! I hate knowing that what (or who) i have today will not be there tomorrow. I want things to stay the way they are. But, you know what, they don’t. I suppose it’s just something in the Nature: everything changes and people part, everything’s broken and people cry, but Life goes on. What a powerful play, one might say.

Since it can’t be helped, perhaps the best we can do is to let go. To celebrate what’s coming our way, to enjoy every second of the togetherness, and to be content still when it is finally time to part. Nevertheless, such an ideal -in my humble opinion- is only possible when, and if, your heart has been paralysed.

What’s so hard about parting? It’s the memory. You keep thinking about the times you shared together, you laugh when coming across any tiny little detail that brings the reminiscence, and then you start feeling those terrible pangs in your heart, plainly realising that there’s no way the past comes back to you; you might whimper or scream like mad but still bygones will be bygones. Damn memories.

Yet, erasing your memory is out of question as well. It is beyond the beyonds. Even if in time you could employ some technology whatsoever to eradicate those of which you’d like to get rid from your memory (watch “Eternal Sunshine of the Spotless Mind” for a good example), the heart might mend but it would never be the same. Being in a tumult of sad nothingness of which you can’t make head or tail is no happy prospect either.


Image hosted by Photobucket.com

Ouch, ouch..

Yes my friends, as you should have been able to guess, I have just encountered another parting, and it turns out to be more painful than I dare admit. And when I finally dare admit, I find myself silently moaning on the unfamiliar feeling of emptiness that obstinately lingers.

Then I remember Sari. Calm, sober, charming. Somehow she managed to always have that grace about her, and it was no exception when she said to me once: “Play the Matrix”.

I didn’t quite understand. Was it something to do with Keanu Reeves?

Image hosted by Photobucket.com


Or else, perhaps she was tipping me off about our Engineering Maths classes? But no, Gauss-Siedel was clearly out of context. Matrix: the situation from which a person grows and develops. Matrix: a mould in which something is shaped. (Definition by Oxford Advanced Learner’s Dictionary of English Language)

Play the matrix. Play with the situations given to you; cuddle your mould.
Laugh when you feel like laughing, cry when you need to, shout when you have to, and play when it is time, work when it is time. Live in each season as it passes; breathe the air, drink the drink, taste the fruit. As the path of Life calls out to you, just do. And in everything you do, enjoy everything you have. The sun, that blue sky. The chirping birds when you wake up. Your consciousness of being, your soul, your beloved, encircling people.

Once you comprehend that nothing lasts forever, you will be appropriately grateful for even the minuscule things God grants you to be with for a while. Then you know they are not truly yours, and you have not the least right to claim ‘em. Hence you humbly and modestly accept partings and topsy-turvy things, knowing that there’s a Grand Design behind all these. If God permits, the things you love will return to you. Maybe tomorrow. Or ten years from now. Maybe never. Yet, angels must have sent you something else to keep you sound and whole.

But it’s just, as Helen Keller once said, "When one door of happiness closes, another opens; but often we look so long at the closed door that we do not see the one which has been opened for us..".

Ah. Knowing all this, all the same here I am, writing out my groan of dismay: “I HATE PARTINGS!”.

I guess I’m the long-starer. I can’t help it-, it fits me to a T..


Other inspiring quotes:
* I trust that everything happens for a reason, even when we’re not wise enough to see it (Oprah Winfrey).
* It’s not the load that breaks you down, it’s the way you carry it (Lena Horne).
* Don’t look back. Something might be gaining on you (Satchel Paige).
* All beginnings require that you unlock a new door (Nachman of Bartslav).
* (and finally..) If you can’t be with the ones you love, love the ones you’re with.. (Anonymous).



Image hosted by Photobucket.com

I am forever indebted to my friend Sari -now lives in Jakarta-, for her little wisdoms that helped me ‘thru “hell and high water”. How I love and admire u, sis..

Tuesday, August 16, 2005

Satu Tujuh Nol Delapan

I.
Mari kita pikirkan ekivalensi ekonomi dari 1400 rupiah:
Sebuah buku tulis 40 lembar.
Sebotol pepsi-twist 300 ml.
Tiga potong pepaya di warung EMB (tapi masih utang Rp 100).
Sewa 2 buku komik Elex Media Komputindo.
Enam potong gorengan yang segera habis disantap sambil menonton gosip selebriti.

Teman saya Uchi berkisah: di tempatnya Rp 1400 punya arti berbeda.
Bapak X yang baik hati dan sederhana, penghasilannya didapat dari menjual pemarut kelapa (aneh rasanya mendengar kata itu di jaman santan instan Kara).
Ini pekerjaan yang keras dan berbahaya, berurusan dengan logam dan godam dan alat pemotong yang sangat tajam.
Dalam sehari bapak ini bisa membuat tujuh pemarut kelapa. Masing-masing lantas dijual dengan keuntungan Rp 200.

Dan itulah: sungguh-sungguh ada tempat, masa, dan struktur sosial, di sini di depan mata kita, yang membuat Rp 1400 ekivalen dengan sehari kehidupan sebuah keluarga.
Bisa membayangkannya? Saya tidak.

Lupakan seorang Agnes Monica yang menghabiskan (kabarnya) Rp 2 miliar untuk pesta sweet seventeen-nya.
Mari kita pikirkan kisaran pemasukan dan pengeluaran yang lekat dalam kehidupan kita:
Gaji seorang teman saya di oil company Rp 8 JT sebulan.
Voucher prabayar kurang lebih Rp 100.000
Uang kos sebulan Rp 150.000
Gaji saya mengajar privat sejam Rp 10.000
Pizza delivery (medium size) Rp 50.000
Pada malam ketika kita bokek, satu porsi tempe penyet Rp 1500

There. Dengan Rp 1400 sehari, how could we survive?

Tetapi ini bukan tentang nominalnya, bukan tentang ‘benar-salah’ posisi kita. Baik bapak X maupun Si 8 JT sama-sama bekerja keras dan berusaha. Dalam dunia kapitalis ini, ada yang bisa merebut banyak peluang, dan ada yang hanya punya satu jalan. Bapak X termasuk yang belakangan.

Education, my friend, education. Kisahnya akan berbeda jika bapak X mempunyai bekal pendidikan. Mungkin di desanya sudah berdiri pabrik pemarut kelapa. Atau bahkan beliau menempuh jalan yang sama sekali berbeda, menjadi bankir misalnya. Dengan pengetahuan dan kreativitas, keluarganya akan lepas dari jerat budaya kemiskinan turun-temurun. Tetapi kita temui pendidikan telah menjadi ajang komersialisasi, -bagaimana bapak X dengan 1400 sehari akan pernah bisa membeli?

Untuk mewujudkan masyarakat (Indonesia) yang adil makmur, bangsa ini diproklamasikan sebagai bangsa merdeka, dan negara ini didirikan. Bangsa yang merdeka, seharusnya kumpulan individu yang merdeka.
Merdeka dari rasa lapar, rasa takut, kebodohan.

(Yah, mudah-mudahan lain kali ketika kita hendak dengan mudahnya meloloskan Rp 1400 ~atau lebih~ untuk hal-hal yang kontraproduktif, kita ingat kisah bapak X ini dan memikir ulang belanja kita. Sebab selamanya konsumerisme memacu kebobrokan bangsa. Terutama bangsa yang terlanjur banyak utang.)


II.
Sekarang tentang cinta.

Pernah saya tanya beberapa teman, “Cinta engga sih sama Indonesia?”.
Hampir semuanya terdiam sejenak, sebelum lantas merespon beraneka. Dalam diam yang sejenak itu, mungkin mereka berpikir tentang carut-marut sistem politik, kekacauan ekonomi, belitan birokrasi, dan korupsi yang melembaga. Mungkin juga tentang aksi terorisme dan harga diri bangsa yang kini tinggal sisa-sisa.

Kadang saya ganti pertanyaannya:
If you had a chance to leave this country for good, would you?
Well, meski muak dengan borok-borok bangsa ini, ternyata mereka tidak bersedia pergi.

Saya lantas teringat Pramoedya Ananta Toer, yang menolak menerima penghargaan sastra di luar negeri karena khawatir Negara tidak mengizinkannya pulang kembali.
Seperti Milan Kundera yang terbuang dari negerinya. Siapa yang bisa bilang Kundera tidak mencintai Ceko? Hanya saja, kadang cinta bertepuk sebelah tangan. Negara tidak suka jika kita berdiri di jalur yang berseberangan.

“Benar, konstitusi menjamin kebebasan berbicara; tapi hukum akan menghukum tindakan apa pun yang bisa ditafsirkan sebagai melecehkan negara. Siapa yang bisa mengatakan kapan negara bisa mulai berteriak bahwa kata ini atau kata itu melecehkannya?”, ungkap Kundera lewat mulut Mirek (The Book of Laughter and Forgetting). Ini berlaku umum di mana saja, sepanjang ingatan umat manusia. Maka karya-karya Pramoedya pernah dilarang terbit, dan Kundera dicabut kewarganegaraannya.

Hari ini tanggal 17 Agustus. Kita mendengar “kemerdekaan” di mana-mana diserukan.”Semangat patriotisme” menjadi jargon dan dielu-elukan.Tetapi: cintakah kita kepada Indonesia, dan bila iya, dengan cara apakah kita telah menunjukkannya?

Saya berpikir dengan ngeri, bahwa mungkin mereka yang paling dibenci Negara adalah sekaligus mereka yang paling tulus mencintai.


III.
God, bless the world and all that is therein.


(Ditulis dua tahun lalu di Jogja. Setelah segalanya, ternyata harapan dan doa saya masih sama.)

Saturday, August 13, 2005

To Find the Bliss in Ignorance


Diskusi (atau apapun namanya) itu diakhiri dengan komentar Rini; -menggugat masyarakat yang terbuai ketaksadaran nasional. Aku yang lagi terburu-buru berujar ringan, “Ya engga pa-pa toh. Kan ada istilah ‘to find the bliss in ignorance’..”.

Yang kami bicarakan adalah penggunaan istilah ‘perempuan’ vs ‘wanita’ (*1). Tapi itu tidak penting.

Yang (buatku) lebih penting adalah ini: to find the bliss in ignorance. Berbahagia dalam ketidaktahuan.

Karena tidak tahu banyak tentang fisiologi pencernaan dan ilmu nutrisi, aku makan apa saja yang aku mau, dan aku bahagia. Sekarang setelah tahu, aku (harus) memilah-milah dulu, dan mengatur pola makanku (*2).


Image hosted by Photobucket.com

Tetap bahagia sih, tapi bertambah lagi yang harus dipikirkan. Bertambah pula kekhawatiran. Mungkin kadar kebahagiaanku berkurang.

Waktu masih kecil imut-imut, polos terhadap busuk dan carut-marutnya Indonesia, aku bisa bermain balon dengan bahagia. Murni bahagia. Sekarang? Tahu banyak justru membawaku kepada ketertundukan (*3).

Lantas seakan contoh-contoh ini belum cukup menjadi bukti, kehidupan menyajikan satu kasus lagi. Baru-baru ini.

Langit biru, angin bertiup damai, sinar mentari hangat membelai. Itu sebelum aku tahu. Kini, di tengah segala keelokan ini, di dalam hatiku menari-nari sebuah nyala Siwa: guilty conscience.

Karena sekarang aku tahu. Satu perbuatanku yang dimaksudkan untuk kebaikan justru berbalik menikam perasaan orang. Aku adalah pendosa (*3). Aku menjadi tidak bahagia.

Orang bilang ‘knowledge is power’.
Pengetahuan mendatangkan kuasa. Namun dalam ketidaktahuan, orang berbahagia.

Mana yang lebih esensial: kekuasaan atau kebahagiaan? Pengetahuan atau ketidaktahuan?

Semua orang di dunia ini tentunya ingin bahagia (*4). Hal-hal yang esensial selalu sangat sederhana!

Tetapi aku tidak menyesal bahwa sekarang aku tahu. Karena kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang masih tetap di sana bahkan setelah kita tahu segalanya. Yang lain semu. Hari ini aku belajar hal itu.


Note:
*1: Aktivis pemberdayaan perempuan (notice: ‘perempuan’, bukan ‘wanita’!) selalu memakai kata ‘perempuan’ dan paling emoh dengan kata ‘wanita’. Rini berkeras bahwa ini bukan sekadar soal diksi.
*2: a.k.a Food Combining :)
*3: Ketertundukan dalam doa?, atau dalam keputusasaan?
Ah, itu pilihan!
*4:
I call sin all those deeds that make a fellow human being suffer.
*5: Yang lebih ingin kekuasaan, misalnya politisi busuk, mungkin tidak termasuk golongan ‘orang’ ya.. ;p

Wednesday, August 03, 2005

Aura Kaya

Aku ini proletar sejati (*1). Dari sumsum tulang sampai rongga jiwa. Aku makan di angkringan dan lebih suka jalan kaki di bawah terik matahari daripada buang uang untuk (bahkan) bis kota.

Tapi sekarang ini aku dan Tiessa sedang mencari cara untuk terlihat kaya. Jangan melecehkan ya! Ini topik serius, dan kami mendiskusikannya dengan cukup saintifik. Coba: sebenarnya bagaimana mekanismenya sehingga begitu kita melihat orang, kita bisa menggolongkan strata sosialnya. Yang ini kaya, yang itu sedangan, yang di sana miskin, yang itu muka kampung. Apa sih dasar klasifikasi ini? Mungkin jika formulanya telah didapat, aku dan Tiessa bisa juga berjalan dengan aura kaya memancar dari tubuh kami berdua. :)

Sekali lagi, ini topik serius, bahkan mungkin bisa diajukan sebagai judul skripsi anak-anak sosial. Karenanya diskusi ini pun meluas dan beberapa teman lain (*2) memperkaya pencapaian aku dan Tiessa.

Ada yang berteori bahwa aura kaya terbangun oleh lingkungan. Ini seperti sajak Jewel, “Maybe if i’m surrounded in beauty, someday i’ll become what i see..”. Orang yang sejak bayi keluar-masuk restoran mewah dan ke mana-mana diantar BMW tentu saja secara alami dari jarak 100 meter pun sudah menguarkan bau-bau orang borju. (*3)

Image hosted by Photobucket.com


Secara singkat inilah hasil diskusi kami:

Orang akan terlihat kaya jika (atau karena):

1. Berpakaian bagus
Makanya temanku selalu bilang, “Harga engga pernah bohong.”. Ternyata baju mahal memang kelihatan mahal. Aku yang modis (MOdal DISkon) ini pun terpaksa nyengir pahit.

2. Ada sesuatu yang berkilau
Perhiasan, aksesoris, apapun deh. Baik yang asli maupun palsu (toh orang awam tidak tahu bedanya).

3. Make-up
Kenapa tampang salon identik dengan kaya? Karena cuma orang yang kelebihan duit yang bisa sering-sering nyalon. Bahkan mereka yang pergi dengan alasan “kesehatan” (bukan “kecantikan”) pun setidaknya sudah tidak lagi memikirkan urusan perut atau uang sekolah anak-anak, sehingga bisa mengalihkan perhatian ke tingkat kebutuhan yang lebih tinggi. Gender bukan masalah. Aku kenal juga seorang cowo yang sempat-sempatnya ke salon untuk merawat wajah.

4. Tas dan sepatu
Total coordinate, sodara-sodara! Kalau kamu benar-benar kaya, urusannya tidak akan berhenti hanya di baju yang “kelihatan” mahal, tetapi juga barang-barang pelengkap seperti tas dan sepatu. Mix-n-match sampe mabok! Inilah perbedaannya dengan yang hanya pura-pura kaya.

5. Bahasa tubuh
Bahasa tubuh orang kaya berbunyi “I’m filthy-rich, i don’t give a d*mn about the world, i can buy YOU, move out of my way!”. Bahasa tubuh orang miskin berbunyi “Oh, i can’t afford any of these, and everyone seems so rich, i’ll be in a trouble, i don’t belong here!”.

Ini poin terpenting dari semuanya. Di sebuah kafe, kami sempat mendapati seorang cewe yang penampilannya seperti bangun tidur, tapi sekali pandang saja kita tahu dia borju. Ini karena dia kelihatan terbiasa menyuruh-nyuruh orang dengan penuh kuasa.

Image hosted by Photobucket.com


Dengan semua poin ini, di mana posisiku? Aku tidak punya baju mahal, tidak punya perhiasan, tidak suka make-up, bersepatu dan tas kumuh, dan secara umum bersikap miskin. Nil out of five. Skor sempurna. Sambil tertawa aku menerima bahwa proletar sejati mungkin tidak ditakdirkan beraura kaya.

Sampai di sini mungkin ada yang bertanya-tanya: Memang apa pentingnya punya aura kaya?

PENTING! Tiessa punya pengalaman buruk di sebuah toko. Pramuniaga di situ dengan baik hati menyarankannya melihat-lihat ke bagian lain yang lebih murah, “Cuma 14 ribuan kok, mbak..”.

Tiessa was utterly cross, i’m telling you. “Apa aku kelihatan kayak orang yang cuma kuat beli barang 14 ribuan? Apa segitu hargaku di mata dia?”. Tapi dia urung mengata-katai pramuniaga itu, karena kuatir dia sendirilah yang memberi alasan untuk penilaian macam itu.
Karena dia tidak kelihatan kaya.

Oh-ya-tentu-saja, secara PPKn situasi di atas harus diterima dengan lapang dada, dan usaha supaya terlihat kaya sama sekali absurd. Tapi lain kali alamilah sendiri sebelum berani-berani menghujat Tiessa (dan menghujatku juga, hehehe..).

Kemudian tiba-tiba aku terpikir bahwa dorongan “supaya kelihatan kaya” macam itulah yang membuat istri-istri pejabat membiarkan (jika tidak membujuk) suaminya korupsi. Oh, shame..! (*4)


Note:
*1: Proletar = oposit borjuis
Tentang ini, aku ingat bagaimana Whisnu bilang aku seharusnya malu menyebut diri proletar, dengan segala konsumerisme hedonistik-ku. Tapi aku berkeras. I worked my butt off for every single penny i spent, quite unlike any spoiled kids relying merely on their parents’ monthly allowance to waste for fun. Jadi aku ini proletar kelas pekerja. Titik.
*2: Give the credits to Pristi, Rini, Adi, and G.T.
*3: Tidak genetis, tetapi tidak bisa instan. Belakangan aku banyak menyambangi resto dan kafe, tapi tetap saja mu-kam (muka kampung).
*4: But i now u wouldn’t go that far, Tiesz. You, who lives by the rule.. ;p

Image hosted by Photobucket.com


Readers, if u find Tiessa and me undoubtedly silly for even thinking about how to look rich, then i congratulate u. This was actuallly written as a kinda “moral boost”: have a good laugh, but then ponder, will u?