Tuesday, April 26, 2005

Tentang Ingin Mencekik Ellen

Meet Ellen.
Physically: tinggi, langsing, sporty, cantik dengan sorot mata cerdas dan kulit seindah porselen. Sikapnya ramah dan santai. Dia sudah menyelesaikan S-1 dan S-2 bidang kedokteran di Belanda, dan sekarang bekerja di World Bank untuk suatu proyek kesehatan.

Dari sisi manapun, dia cewe yang smart dan menyenangkan.

Aku menjemputnya di bandara, mengantarnya ke hotel, dan melatihnya berbahasa Indonesia. Kemudian pada suatu ketika, aku ingin mencekik dia.

Ini tentang achievement. Benar, dengan semua prestasinya Ellen adalah achiever, tapi toh aku tidak mudah terintimidasi oleh pencapaian orang. Sudah imun. Maksudku, di tempat kerja setiap hari aku bertemu para achiever: diplomat-diplomat, orang-orang dari NGO, manajer-manajer MNC. Mereka harus mendengarkanku karena aku adalah trainer mereka. Ellen tidak beda. “OK, you have a Master Degree. OK, you work for the World Bank. So what, gitu loh?”. Begitulah mula-mula opiniku.

Sampai aku bertanya berapa umurnya. Dia bilang 23. Biasanya orang-orang selevel Ellen umurnya sekitar 28; aku pikir Ellen salah ingat kata, jadi aku tuliskan angkanya: 23. “Seperti ini?”, tanyaku. Dia mengangguk.

Itulah saatnya ketika aku ingin mencekik Ellen.

23. Itu sama dengan umurku! And already she achieved so many. Sedangkan aku bahkan belum lulus program S-1. Why did mankind invent the words “fair and just”? To show that such things never exist?

I’m telling you, terintimidasi oleh pencapaian orang lain tuh benar-benar memuakkan. Terakhir aku dilanda ‘penyakit’ ini adalah Oktober lalu di Handil Field, lapangan migas milik Total. Aku sekamar dengan employee baru di Departemen Lingkungan; cewe lulusan cumlaude dari TekLing I*B (tentu saja lengkap dengan ideologi “I*B uber alles”-nya). Dia anak ’99, yang berarti kami seangkatan. Tapi dia adalah “employee yang terhormat”, sedangkan aku cuma sekadar “anak KP yang hina-dina”, bumbu sambel terasi di dunia kerja. Dia jelas-jelas merasa diri lebih tinggi. Aku kesal karena mungkin dia benar.

Aku bukan Cinderella atau Putri Salju yang ketika dijahati tetap sanggup bermanis hati. Dia bersikap “you-are-nothing” kepadaku, dan aku membalasnya dengan bersikap “you-might-be-everything-to-the-world-but-you-are-nothing-to-me”. Hehehe.. Childish, I admit, dan bukan contoh moral yang baik. Toh bagaimanapun kami tetap berlaku sopan-dan-terhormat satu sama lain.

Tapi akhirnya aku menyadari bahwa tidak mungkin dia benar. Aku berhasil mengatasi perasaan terintimidasi itu. Akhirnya si employee ini juga menerimaku sebagai teman sekasta dan bukannya orang paria ;p

Malam itu, waktu aku ingat bagaimana aku sempat merasa terintimidasi oleh Ellen, aku membaca kembali doktrin yang aku tulis di HP waktu memutuskan mengakhiri ‘konfrontasi’-ku dengan cewe Total itu.

“Your value is not measured by what you’ve achieved. (Even an achievement could invite a number of different opinions). Your value is what you are feeling, thinking of, hoping for. It is not what you are doing, but why and how you are doing it. So be open, respect others sincerely, be helpful, be kind. Smile. Show others that you like ‘em and you like your self. Then you’ll be a good girl.”

Aku tersenyum. Your value is your heart and soul.

Esoknya, aku juga tersenyum. Kepada Ellen. Sambil meraih tangannya dan bertanya tulus, “Apa kabar? How’s the day so far?”. Karena, dari sisi manapun, dia cewe yang smart dan menyenangkan.

PS:
Cekik-mencekik yang aku maksud di sini tuh cuma figuratif lho ya! Aku bukannya psikopat ato apa.