Sunday, November 13, 2005

Kebijakan Keuangan


Otakku yang tidak beres ini selalu menyisakan ruang bagi pertanyaan-pertanyaan iseng dan remeh-temeh. Kali ini, keisengan itu berbuntut sebuah survei kecil tentang rencana kebijakan keuangan.

Bukan skala negara, dong. Yang ini ekonomi mikro; supermikro, malah. Respondennya cowok-cowok teman mainku. Pertanyaannya berbunyi:

KALAU SUDAH NIKAH NANTI, BERAPA PERSEN DARI GAJI KAMU YANG KAMU KASIH KE ISTRI?

Reaksi pertama selalu cengir nggak jelas.

Jawaban favorit ternyata “Belum kepikiran, tuh..”. Dan kubalas galak, “Pikir dong!”. Habisnya aneh sih. Ngakunya sudah Usia Panik, sudah ribut cari cewek buat calon istri, sudah mikir rencana bulan madu segala, tapi hal sepenting Kebijakan Keuangan malah disepelekan. Memangnya istri sekadar mesin di dapur dan hiasan di kamar tidur?

Anyway, jawaban yang mengemuka dari survei ini ternyata lucu-lucu.

Ada yang berprinsip fifty-fifty. Soalnya standar istri mereka adalah yang bekerja; di luar itu “no, thank you”. Soal selera sih terserah, tapi menurutku kebijakan ini agak kurang ajar. Waktu dikorek lebih jauh, cowok-cowok dari tipe ini ternyata ingin menyesuaikan saja dengan penghasilan istri. Semakin besar gaji istri, semakin kecil persenan dari suami. Nah, itu maksudnya apa? Jadi selain dituntut mengurus rumah, juga sekaligus dituntut membayar pembiayaannya? Ck, ck, ck.. eksploitasi!

Ada pengikut mahzab bokapnya Sin-Chan: serahkan seluruh uang pada istri, dan minta uang saku perbulan. Dengan kata lain, bapak dan anak-anak sama-sama dijatah ibu. Lucu juga. Tapi apa artinya ya: sangat mencintai istri? Sangat percaya pada istri? Nggak mau repot? Oeidipus-complex? Atau ketiban sial punya istri galak? :-D



Yang bertolak belakang dengan mereka tentu saja pendukung “mosi tidak percaya” pada istri. Suami yang susah-payah kerja, kenapa juga istri yang seenaknya diberi hak belanja-belanja? Tipe ini tidak mau menyerahkan uangnya; istri cukup dijatah saja. “Stingy, eh?”, komentarku. Tapi mereka berlindung di balik dalih “Kalau aku bisa mengatur uang jauh lebih baik daripada istriku, kenapa harus dia yang pegang uang?”.

Tipe lain yang unik adalah pembagian ruang gerak. Suami membiayai listrik, telepon, gas, dll. Istri membiayai belanja sehari-hari. Tentu saja rencana ini baru berjalan ketika (dan jika) keduanya bekerja.

Nah, ini membawa kita pada pertanyaan: sebenarnya di mana posisi gaji sang istri dalam keuangan rumah tangga, jika sang istri bekerja?

Beberapa (calon) suami mengklaimnya sebagai salah satu butir pemasukan, alias harta milik bersama. Tetapi tahukah Anda, saudara-saudara, bahwa menurut Islam harta istri adalah hak milik istri pribadi? Terserah dia mau diapakan. Untuk belanja sampai mabok atau spa dan sauna seharian, suami dilarang protes. (*1)

Menarik, karena Islam yang selama ini dikecam atas pelanggaran terhadap prinsip kesetaraan jender justru merupakan sistem yang nyata-nyata menjamin hak milik perempuan bahkan dalam konteks seintim bahtera rumah tangga.

Aku ingat bagaimana Arundhati Roy menggambarkan ketidakadilan terhadap posisi perempuan di India dalam hal hak milik.
“Thanks to our wonderful male chauvinist society.”, Ammu said.
Chacko said, “What’s yours is mine and what’s mine is also mine.”
(*2)

Aku membayangkan -dengan senyum jail- berapa persen pun yang diberikan suami, dan seberapa besar pun penghasilan istri, istri akan bisa (kerena berhak) berkata tenang, “What’s yours is mine and what’s mine is also mine.”

Female Chauvinist Pig? Sekali-sekali mungkin boleh, hehehe..

Jadi para cowok, baik yang sudah, akan, maupun belum menikah, pikirkanlah lagi (rencana) kebijakan keuangan Anda. Sementara itu, para cewek bisa duduk meluruskan kaki dan leyeh-leyeh; ahhh... menjadi perempuan itu menyenangkan, kan?

Note:
(*1) Tentu saja, jika sang istri ridla (alias rela dan bersedia dengan lapang dada), pasutri bisa memakai harta sang istri untuk keperluan keluarga atau kepentingan bersama. Itu dianggap sebagai hibah atau bahkan sedekah; tidak ada kewajiban dan tidak boleh ada paksaan. Yang WAJIB menafkahi keluarga tetap saja sang suami. HA HA HA.
(*2) Arundhati Roy dalam bukunya “The God of Small Things” menggambarkan bahwa sistem hukum di India (Locus Stand I) pada masa itu tidak memungkinkan perempuan (Ammu) mempunyai hak milik; semuanya dikuasai laki-laki (Chacko).
Male Chauvinist (seringkali Male Chauvinist Pig) adalah istilah untuk laki-laki yang memuja dominasi dan superioritas laki-laki atas perempuan.


To KEJORA (Kelompok Jomblo Realia) for the good times -karaoke, bowling, movie, dinner, chat- we had. You guys rock! :-)